Dinukil Dari Nasehat Al-Faqih Almuhaqiq Al-Habib Zain Bin Ibrahim Bin Sumaith Hafidhahullah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda; 

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidaklah ada hari-hari dimana amal saleh di dalamnya lebih disukai Allah melebihi hari-hari ini,’ yaitu sepuluh hari awal Dzulhijjah. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Tidak juga jihad di jalan Allah?’

Beliau menjawab, ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang pergi dengan membawa diri dan hartanya, lalu ia tidak kembali pulang membawa sesuatu pun dari semua itu’.” 

Juga disebutkan dalam riwayat bahwa berpuasa setiap hari dari sepuluh hari ini setara dengan puasa setahun, dan shalat malam di seluruh malam selama sepuluh hari ini sama seperti shalat malam pada malam Qadar. 

Jangan sampai Anda durhaka kepada kedua orang tua, memutuskan tali kekeluargaan, terlibat pertengkaran dengan seorang muslim lainnya, dan jangan sampai istri durhaka kepada suami, karena mereka ini terhalang dari rahmat Allah dan dijauhkan dari hadirat ilahi.

Kecuali jika mereka bertobat dan kembali kepada Allah. Maka dari itu, bertobatlah wahai kaum muslimin dari perilaku durhaka kepada orang tua dan kezaliman terhadap sesama.

Bertobatlah dari memutuskan tali kekeluargaan dan berbagai dosa lainnya.

Ketahuilah, siapa menjumpai kedua orang tua yang masih hidup, itu adalah kesempatan emas untuk mendapatkan keuntungan besar.

Manfaatkanlah kesempatan tersebut dengan berbakti kepada keduanya, dan curahkan segenap kemampuan untuk melayani segala keperluan keduanya, karena hal itu lebih baik di sisi Allah dari pada derajat shalat, puasa, sedekah, haji, dan jihad di jalan Allah. 

Maka dari itu, jangan sampai durhaka kepada kedua tua dan menyia-nyiakan hak-hak mereka berdua, karena orang yang durhaka kepada kedua orang tua adalah orang yang terhalang dan terlaknat. Amalannya tidak diangkat ke hadirat ilahi.

Allah melarang sekedar mengucapkan kata, “Ah!” kata ini adalah kiasan untuk segala bentuk perilaku yang menyakiti hati orang tua.

فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ 

 “Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan, ‘Ah,” kata (أُفٍّ) artinya keluh-kesah. Maksudnya, janganlah engkau berkeluh kesah mendampingi keduanya dan jangan pula berkeluh kesah melayani keduanya.

Terlebih jika keduanya telah mencapai usia renta, karena saat itu keduanya mengalami lemahnya kekuatan dan penglihatan, karena keduanya dulu juga tabah dalam melayani segala keperluan Anda meski harus menyakitkan, dan keduanya juga menghadapi beban berat dalam mendidik dan merawat Anda seraya menghadrap Anda tumbuh besar dan hidup, juga mengharapkan Anda bahagia.

Tidak seperti Anda yang meski Anda mungkin tabah menghadapi sedikit perilaku kedua orang tua yang menyakitkan Anda, namun Anda mengharap kedua orang tua Anda mati, dan Anda merasa jemu menyertai kedunya.

Tentu sangat jauh berbeda pelayanan dan pengorbanan orang tua terhadap Anda, dan pelayanan Anda untuk keduanya.

Hak ibu-bapak termasuk hak yang paling besar dan wajib setelah hak Allah Ta’ala.

Orang bahagia adalah orang yang mendapat pertolongan untuk menunaikan hak keduanya dengan penuh kesungguhan.

Dan orang yang benar-benar terhalang dari rahmat adalah siapa yang dipalingkan dari hak-hak orang tua dan menyepelekannya.

Dalam hadits disebutkan; “Aroma wangi surga tercium dari sejauh perjalanan limaratus tahun.

Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan yang memutuskan tali kekeluargaan, tidak mencium aroma wanginya.” 

كُلُّ الذُّنُوبِ يُؤَخِّرُ اللَّهُ مَا شَاءَ مِنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا عُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُعَجِّلُهُ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَيَاةِ قَبْلَ الْمَمَاتِ

“Setiap dosa (hukumannya) ditunda Allah hingga hari kiamat seperti yang Ia kehendaki, kecuali dosa durhaka kepada kedua orang tua, karena Allah menyegerakan hukumannya kepada pelakunya dalam kehidupan (dunia), sebelum kematian.” 

Bakti bisa dilakukan sekalipun mereka telah meninggal.

Datanglah seorang lelaki kepada Nabi SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah!

Kedua orang tuaku telah meninggal dunia. Apakah aku masih bisa berbakti kepada keduanya setelah keduanya tiada?’

Beliau menjawab, ‘Ya. Doakanlah keduanya, mohonkanlah ampunan untuk keduanya, tunaikan janji mereka berdua, berbuat baiklah kepada kawan-kawan keduanya, dan sambunglah  tali kekeluargaan yang tidak terambung tanpa melalui perantara keduanya’.”

Sumber : Bidang Dakwah Rabithah Alawiyah