Ketahuilah semoga Allah swt merahmati kalian bahwa dzikir memiliki etika,

terutama menghadirkan hati bersama lisannya saat berdzikir,

oleh karena itu lakukanlah hal ini sebab orang yang berdzikir tidak dapat mencapai hasil berdzikir dan inti utamanya kecuali dengan hati yang hadir.

Diantara adab berdzikir ialah orang yang berdzikir kepada Allah swt hendaknya dalam keadaan adab yang sempurna dan penampilan dzahir batin yang baik,

dalam keadaan suci dan bersih, dalam keadaan khusyu’ sewaktu berdzikir,

mengagungkan kebesaran-Nya, menghadap kiblat, menundukkan kepala dan menenangkan seluruh anggota tubuh seperti dalam shalat.

Selain itu, yang paling penting seorang hamba senantiasa berdzikir kepada Allah swt dalam setiap waktu dan keadaannya.

Apabila ia senantiasa dapat menjaga adab yang kami sebutkan seperti dalam keadaan suci dan menghadap kiblat dan lain-lainnya dalam setiap keadaannya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang berkhalwat kepada Allah swt hendaknya ia menerapkan nya.

Tetapi apabila tidak dapat melakukannya terus menerus hendaknya ia meluangkan waktu khusus untuk duduk berdzikir dengan memakai adab-adab yang telah kami sebutkan dan juga adab semisalnya yang belum kami sebutkan.

Selanjutnya hendaknya ia senantiasa berdzikir dalam setiap keadaannya baik berdiri, duduk, berbaring dan lain sebagainya tanpa batas.

Dalam hal ini, Allah swt berfirman:

فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

Artinya: “Ingatlah Allah di waktu berdiri, di zvaktu duduk dan di waktu berbaring.” [Qs. an-Nisaa’ ayat: 103).

Hindarilah melalaikan dzikir di waktu apapun karena melalaikan dzikir banyak sekali dampak negatifnya.

Mengenai hal ini, Nabi Muhammad Saw bersabda:

((من قعد مقعدًا لم يذكرِ اللهَ فيه  إلا كانت عليه من اللهِ تِرَةٌ ، ومن اضطجع مضجعًا لم يذكرِ اللهَ فيه إلا كانت عليه من اللهِ تِرَةٌ . ومن مشى ممشًى لا يذكر اللهَ فيهإلا كانت عليه من اللهِ تِرَة)). انتهى. ومعنى الترة: الحسرة، وقيل: التبعة.

Artinya: “Barangsiapa yang duduk di suatu tempat ia tidak mengingat Allah kala itu melainkan ia tidak merasakan sesuatu dari Allah selain penyesalan,

dan barangsiapa yang berjalan di suatu tempat ia tidak mengingat Allah kala itu melainkan ia tidak mendapatkan apapun dari Allah kecuali penyesalan.”

Kalimat tirah pada hadits ini berarti penyesalan dan ada juga yang menyatakan artinya dosa.

Bisa jadi dikarenakan ia melalaikan dzikir kepada Tuhannya ia dikuasai oleh setan.

Hal ini sebagaimana firman Allah swt:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Artinya: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Tang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”{Qs. az-Zukhruf ayat: 36).

Sumber: Nasihat dan Wasiat Imam Haddad