Oleh: Zen Umar Sumaith

Ego manusia sudah ada sejak dia dilahirkan dan berkembang seiring dengan berkembangnya fisik dan mentalnya.

Di saat seorang bayi atau balita menangis merespon tindakan ibunya, adalah bagian dari ekspresi untuk menunjuk keinginannya yang mungkin belum dipahami oleh sang ibu.

Di sinilah sebenarnya sudah muncul embrio dari ego seorang anak manusia agar keinginannya dipenuhi. Sifat ini berkembang secara alamiah sejalan dengan masanya.

Masa ketika dalam asuhan ibu, dilanjutkan dengan masa sekolah dan masa remaja, lalu kehidupan masa dewasa dengan lingkungan pergaulan yang bermacam-macam, juga berperan dalam pembentukan karakter seseorang.

Kehidupan berikutnya di mana pribadi tersebut berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya, sifat atau ego ini akan muncul lebih jelas.

Kebanggaan diri yang membahayakan

Ego yang berlebihan akan mengarah kepada sifat bangga terhadap diri sendiri (ujub) dan sombong. Sifat ini akan muncul ketika seorang merasa paling benar, atau paling berilmu, serta merasa dirinya lebih baik dan lebih tinggi dari orang lain.

Dia melihat orang lain adalah lebih rendah daripada dirinya. Allah Swt. membenci manusia yang memiliki sifat sombong, karena ini bukanlah sifat makhluk, tetapi adalah salah satu dari sifat Sang Khalik, yaitu Al-Mutakabbir.

Alquran telah mengisahkan bagaimana iblis menunjukkan sifat angkuh dan sombongnya ketika dia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam a.s. dengan jawaban “Saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia, Engkau ciptakan dari tanah (Ana khairun minhu, kholaqtani min naarin wa kholaktahu min tin), (QS. Al-‘Araf: 12).

Dengan jawaban yang demikian, Allah Swt. melaknat iblis sampai akhir zaman. Sifat sombong ini juga pernah ditunjukkan oleh Fir’aun ketika dia merasa kekuasaannya tidak terbatas, sehingga dia lupa bahwa dia adalah manusia biasa. Kekuasaan ini telah membutakan mata hatinya, sehingga dia mengumumkan kepada rakyatnya “Aku adalah tuhanmu yang maha tinggi” (Ana robbakumul a’la), (QS. An-Naaziat: 24).

Demikian pula ucapan Qarun yang lupa diri karena mendapat limpahan harta yang sangat banyak, padahal harta tersebut diberikan oleh Allah Swt. atas doa Nabi Musa a.s., tetapi dia justru membantah, “Dia (Qarun) berkata “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku. (sampai dengan akhir ayat), (QS. Al-Qashash: 78).

Proses penciptaan manusia

Mari kita memikirkan dan mempelajari  proses tahapan penciptaan manusia sebagaimana diterangkan dalam Alquran:

“Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dari sari-pati (berasal) dari tanah. Kemudian kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS Al-Mu’minun: 12-14 ).

Jika kita melihat proses di atas, masih pantaskah kita sebagai manusia berlaku sombong di muka bumi Allah ini?

Belum lagi jika membayangkan organ pencernaan manusia yang mengandung kotoran dan dibawa kemana-mana.

Seandainya apa yang kita bawa di dalam perut itu terlihat secara transparan dari luar, alangkah menjijikkan pandangan tersebut, tetapi Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Lagad kholaqnal insana fi akhsani taqwiim). (QS. At-Tin: 4). 

Ego yang muncul dalam bentuk “Aku” yang dominan

Sifat-sifat takabur atau mengganggap diri superior dan paling tinggi, serta menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya akan terlihat dalam interaksi dengan orang lain. Umumnya dalam pembicaraan, ia akan sering menonjolkan kata “Aku” atau “Saya” sehingga tekanan kata ini bisa dipahami sebagai penekanan pembicaraan yang mengharapkan pengakuan bahwa dirinya menonjol dan lebih baik.

Setiap pribadi cenderung memiliki kebanggaan pada apa yang telah dicapai, misalnya keberhasilan dalam pendidikan, bisnis, pengaruh, kekuasaan, dan lain-lain, tetapi ketahuilan bahwa semua itu adalah pemberian Allah, yang akan sirna jika Allah Swt. mencabutnya. Apapun yang didapat di dunia ini tidak ada yang akan kekal abadi.

Sangatlah menarik jika mempelajari bahasa Inggris. Kata apapun bisa ditulis dalam huruf kecil, dan tetap memiliki makna, tetapi pada saat kita menuliskan kata “saya”, maka harus ditulis dengan huruf besar “I”. Jika kita menulis huruf “i” dengan huruf kecil, maka huruf itu tidak akan memiliki makna sama sekali. Sehingga penulisan kata “saya” dalam bahasa Inggris “I” memiliki arti tersirat “saya adalah yang terhebat” (I have to be the great)

Menundukkan ego “Aku” dengan menyadari diri kita ini siapa?

Secara fitrah manusia senang jika dirinya dipuji, tetapi jika menyadari bahwa ia memiliki banyak keterbatasan, dan memiliki kurva kehidupan yang pasti, yaitu lemah (saat bayi), tumbuh menjadi kuat (saat dewasa), kemudian menjadi lemah kembali (saat tua) seharusnya ia tidak boleh sombong dengan segala keterbatasan yang dimilkinya, seperti keterbatasan akal pikiran, keterbatasan penglihatan, keterbatasan kemampuan bergerak, dan keterbatasan umur. Tetapi hal yang menarik adalah manusia sangat sulit melihat kelemahan diri sendiri, dan selalu melihat kelemahan orang lain.

Sangatlah bijak jika manusia menyadari kodratnya sebagai makhluk yang harus sujud kepada Allah sebagaimana Allah memerintahkan iblis sujud kepada Adam agar menekan dan menundukkan kesombongan dalam bentuk “Aku” di dalam dirinya.

Seseorang yang banyak sujud kepada Allah, niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya di sisi Allah.

Dalam salah satu hadis Rasul Saw. “Perbanyaklah sujud kepada Allah, sesungguhnya dengan satu kali sujud maka Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus dosamu.” (HR. Muslim).

Renungkanlah bahwa segala sesuatu kenikmatan di dunia pasti memiliki batas.

Jika kita merasa berilmu (alim), sadarilah bahwa banyak sekali orang lain yang lebih berilmu.

Jika seseorang merasa kaya, ketahuilah banyak sekali orang yang lebih kaya.

Dan jika ada seseorang yang merasa paling berkuasa, maka sadarilah bahwa ada orang yang lebih berkuasa.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar ungkapan, “Di atas langit masih ada langit yang lain”.

Imam Ghazali rakhimahullah menguraikan bahwa perasaan ujub adalah kecintaan seseorang akan suatu karunia yang ada pada dirinya dan ia merasa memilikinya sendiri, serta tidak menyadari bahwa karunia tersebut adalah pemberian Allah Swt.

Semoga dengan kesadaran terhadap diri seseorang, maka ia akan terhindar dari sifat bangga diri (ujub) serta selalu bersujud untuk memohon ampunan Allah Swt.

Sesungguhnya sikap takabur dan bangga diri seseorang, akan menutup mata hatinya dari kebesaran Allah.”