Oleh: Zen Umar Sumaith

Ketua Umum Rabithah Alawiyah

 

Ketika Allah Swt menciptakan manusia, diciptakanlah dengan sebaik-baik ciptaan. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya, “Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At-Tin: 4).

Kemudian, Allah memberi tugas ciptaan ini sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya yang lain, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.”

Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah: 30).

Di dalam ayat itu, para malaikat bertanya, mengapa kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi seakan lebih mulia dari mereka yang selalu bertasbih dan memuji Allah, padahal manusia akan melakukan kerusakan dan saling membunuh.

Namun, Allah Mahatahu tentang segala ciptaan-Nya. Penciptaan ini juga agar makhluk, seperti jin dan manusia selalu beribadah kepada Sang Pencipta. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Zariyat: 56).

Manusia menjadi makhluk yang sangat istimewa karena diberi banyak kelebihan. Ia diberi hawa nafsu, dianugerahi akal untuk mengendalikannya. Berbeda dengan malaikat yang tidak diberi nafsu, kecuali hanya beribadah kepada Allah Swt, sedangkan binatang hanya diberi nafsu dan insting, tanpa diberi akal. Kemuliaan ini menjadikan manusia pantas sebagai khalifah di muka bumi.

Akal merupakan anugerah paling tinggi nilainya. Dengannya, manusia bisa berpikir, beriman kepada Sang Pencipta, berkreasi, dan mampu memilah antara yang baik dan yang buruk. Sebagai makhluk Allah, manusia diciptakan dengan anatomi yang sebaik-baiknya. Salah satu keistimewaannya, di antaranya, adanya organ dalam tubuh manusia yang sangat menentukan, yaitu otak atau dalam bahasa Arab “mokh” (brain) sebagai sentral kendali yang mengontrol seluruh gerakan dan indra manusia.

Kata brain menurut Oxford Dictionary adalah “organ yang menyimpan data, pikiran, panca indra, dan sensasi” sehingga jika kita analogikan dalam dunia IT seperti perangkat keras yang di dalamnya ada perangkat lunak dengan berbagai kandungan isi. Kita tidak akan membahas anatomi otak dengan bagian-bagiannya, serta fungsinya di dalam otak besar dan otak kecil karena makhluk lain, termasuk binatang juga memiliki otak, tetapi kita akan melihat dari sisi karunia Allah berupa akal pikiran atau “al-Aql” (mind). Ini menuntun ke alam kesadaran diri sebagai manusia atau “basyar” (human), yang beriman, berpikir, berinovasi, serta mampu menganalisis sesuatu yang baik dan yang buruk.

Keimanan adalah kolaborasi antara akal sehat yang merupakan hasil kemampuan otak dalam mengolah data dan peristiwa, dengan hati nurani serta jiwa yang bersih. Manusia diminta selalu berpikir dari mana dia berasal, untuk apa ia diciptakan, dan kemana ia akan pergi sebagai tujuan hidupnya. Akal jualah yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain.

Kesadaran sebagai manusia akan membawanya memahami keterbatasan akal dalam memikirkan rahasia-rahasia Allah Swt. Karena itu, dalam meyakini dan memahami agama tidak bisa hanya menggantungkan kemampuan akal. Namun, harus dibarengi dengan keimanan dan hidayah Ilahiah. Wahyu dari Allah Swt adalah rujukan utama untuk memahami kaidah-kaidah agama, dan akal adalah rujukan kedua. Akal hendaknya digunakan untuk memahami makna wahyu. Bukan sebaliknya, di mana wahyu diukur atau dianalisis dengan keterbatasan akal. Dengan pendekatan ini, niscaya akan menghasilkan ketakwaan dan sifat bijaksana, serta membawa manusia dekat kepada Allah Swt.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Tiada akal seperti kebijaksanaan, dan tiada wara’ seperti mencegah diri (dari maksiat), serta tiada keutamaan seperti akhlak yang baik.” (HR Ibnu Majah melalui Abu Dzar, ra). Keselarasan dari ketiga hal yang disabdakan Rasulullah tersebut akan menciptakan keselarasan hidup yang didambakan setiap insan. Disadari, akal pikiran seseorang, memiliki keterbatasan dalam memahami sifat-sifat Ilahiah. Manusia yang terlalu mengagungkan kemampuan akalnya, sering tergelincir ke pemikiran liberal. Bahkan, kondisi yang demikian bisa menjadikan ia murtad.

Jika semua menyadari segala sesuatu memiliki batas kemampuan, termasuk akal manusia, hendaknya kemampuan akal ini dipadukan dengan keimanan sehingga bisa membimbing diri menjadi pribadi baik, yang sadar kodratnya sebagai makhluk Allah yang termulia.

Sangat disayangkan jika anugerah akal ini disia-siakan dengan tidak digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesamanya atau bahkan sebaliknya, untuk menciptakan kerusakan di muka bumi atau memunculkan pemikiran-pemikiran tercela.

Ini menjadikan manusia mendurhakai Tuhannya. Dalam hadis Qudsi disebutkan, “Hai Ibnu Adam! Taatlah kepada Rabbmu maka kamu termasuk orang berakal, dan janganlah mendurhakai-Nya karena kamu akan dinamai seorang yang jahil.” (HR Abu Na’im, melalui Abu Hurairah ra).

Akankah kita menyia-nyiakan anugerah Allah Swt berupa akal, untuk sesuatu yang dilarang oleh-Nya dan kita gunakan untuk memikirkan dan mengetengahkan pendapat yang menjauhkan diri dan menentang terhadap apa yang telah difirmankan-Nya?

Bahkan, terkadang kita menggunakan kemampuan akal untuk menghalalkan perbuatan yang haram atau sebaliknya. Semoga generasi mendatang dapat memanfaatkan kekuatan dan kecerdasan akal serta kebersihan hari sehingga terlahir generasi unggul untuk membangun negara ini.

 

Sumber: Republika, 26 Oktober 2019, Hlm. 7

Foto: Sumber