Baginda  Nabi  Muhammad  Shalallahu alihi wa aalihi wa shahbihi wa salam juga senantiasa  mengingatkan kita sebagai umatnya: ‘Ketika suatu kaum duduk bersama-sama, akan tetapi tidak mengingat Allah swt sama sekali maka mereka bakal merasakan penyesalan yang mendalam dihari kiamat nanti.

Wahai kaum muslimin, oleh karena itu pergunakanlah waktu dengan kegiatan yang baik. Gunakanlah umurmu untuk mendatangkan keridhaan Allah swt dan Rasul-Nya. Janganlah kita ‘membuang’ begitu sajawaktu dan umur kita. Ikatlah talipersaudaraan dengan asas yang bagus serta tujuan yang penuh manfaat.

Sebagaimana yang telah disabdakan  oleh  Nabi  Muhammad Shalallahu alihi wa aalihi wa shahbihi wa salam: ‘Ketika seseorang menjalin sebuah pertemanan, meskipun hal itu hanya Sejenak, maka kelak pada hari pembalasan ia akan ditanya mengenai perkawanannya itu: ‘Apakah dalam pertemanan itu ia melaksanakan hak-hak Allah swt ataukah justru  ia melupakannya?’

Oleh  karena  itu,  saling  berwasiatlah  diantara  kalian  di jalan Allah swt dengan baik dan bersabarlah  terhadap semua yang terjadi.

Wahai hamba Allah, kita sudah sering membuang-buang waktu yang Allah swt anugerahkan kepada kita. Kita telah menggunakan umur yang diberikan Allah swtkepada kita dengan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat Berapa banyak diantara kita yang lebih banyak mengisi waktunya untuk bermaksiat kepada Allah swt dan Rasul-Nya ketimbang untuk berbuat ketaatan yang mendatangkan keridhaanAllah  swtdan Rasul-Nya?

Marilah sejenak kita renungkan bersama tentang rutinitas kita sehari-hari.

Kemanakah malam-malam kita selama ini?

Untuk apakah umur kita dihabiskan ?

Apa yang kita kerjakan antara Maghrib dan Isya’?

Apa saja aktifitas kita dalam sehari semalam?

Tempat manakah lebih banyak kita kunjungi?

Majelis yang mengingatkan kita kepada Allah swt dan Rasul­ Nya ataukah waktu kita dihabiskan pada tempat-tempat yang telah menjadi ajang melupakan Allah swt dan Rasul-Nya?

Sampai kapan kita akan begini wahai saudaraku? Sampai kapan kita akan mulai merubah keadaan ini?

Ingatlah bagaimana Baginda Rasulullah  Shalallahu alihi wa aalihi wa shahbihi wa salam senantiasa berdzikir kepada Allah swt di setiap waktunya. Dahulu kaum muslimin tak pernah lalai untuk berdzikir, dimana saja dan kapan saja, siang ataupun malam, namun kini umat Islam baik yang muda maupun yang tua, sudah menganggap remeh akan makna dzikir. Mereka malas mengingat Allah swt dan lebih suka menyibukkan diriuntuk membicarakan yang lainnya.

Ketika didalam masjid sekalipun, mereka menganggap membaca al-Qur’an tidak lebih nikmat daripada berbicara dengan teman duduknya (ngobrol), sehingga kita kerap menyaksikan mereka bicara tak tentu arah didalam rumah Allah swt itu,bahkan tanpa rasasungkan mereka meletakkan al-Qur’an yang tengah dibacanya hanya demi mengobrol bersama rekan-rekan mereka, sungguh betapa gentingnya keadaan muslimin saat ini.

Tak hanya itu, umat Islam sekarang cenderung menjauhi majelis ta’lim. Ketika majelis pengajian diadakan di suatu tempat, ‘pesertanya’ selalu sedikit, orang-orang enggan datang dan lebih memilih perkumpulan-perkumpulan yang kurang baik. Ini adalah contoh manusia-manusia yang rugi, mereka kelak bakal menyesal, narnun sekali lagi, bahwa penyesalan itu tiada guna.

Keberadaan mereka telah digambarkan oleh Rasulullah Shalallahu alihi wa aalihi wa shahbihi wa salam dalam sebuah haditsnya: ‘Manusia yang paling besar penyesalannya di akhirat kelak adalah mereka yang memiliki kesempatan untuk membaca al­Qur’an, namun justru mereka sia-siakan kesempatan yang agung itu.’

Masa keemasan telah berlalu, yaitu masa para sahabat, tabi’in dan tabi’ut-tabi’in. Masa ketika melantunkan dzikir, membaca al­Qur’an dan mengkaji hadits menjadi kebiasaan, baik ketika makan, minum, tidur dan segala aktifitas kehidupan kita. lntinya mereka menjadikan kehid upannya adalah ibadah dan beribadah dalam kehidupan mereka, sungguh mereka benar-benar sangat menghargai waktu, umur dan kesempatan.

Wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa segala sesuatu yang dilandasi dengan sebuah niatan yang baik dan tujuan yang mulia, yaitu untuk menggapai ridha Allah swt dan Rasul-Nya, maka hal itu akan membuahkan kebajikan-kebajikan bagi diri kita. Dan jikalau kita menanam kebajikan maka pada hakekatnya kita akan memperoleh keridhaan-Nya. Jikalau Allah swt ridha, maka tiada balasan yang pantas bagi hamba tersebut kecuali surga Allah swt yang begitu indah.

Ya Allah, bimbinglah kami kepada jalan kebaikan-Mu, tetapkanlah rahmat-Mu untuk kami, ‘siramkanlah’ anugerah­ anugerah-Mu kepada kami, perbaikilah dzahir dan batin-batin kami, baguskanlah niat dan tujuan kami, hilangkanlah segala macam dan segala bentuk kesulitan dari kaum muslimin.

Kami memohon dengan kasih-Mu, wahai Yang Maha Kasih Sayang.


Penyeru Ajaran Suci Sang Nabi – Habib Umar bin Hafidz