Oleh: Zen Umar Sumaith

Dzuhijjah merupakan bulan istimewa di kalangan Muslim seluruh dunia. Pada bulan ini, ada perhelatan besar yang merupakan ibadah bersifat lahiriah dan batiniah, sesuai rukun Islam yang kelima. Ibadah ini memiliki dua dimensi. Yakni, hubungan vertikal antara hamba dan Sang Khalik, sekaligus hubungan horizontal antara manusia dan manusia dalam konteks ukhuwah Islamiyah. Ajang silaturahim yang mempertemukan berbagai bahasa dan adat istiadatnya.

Sebagian ritual ibadah haji adalah meneladani yang telah dilakukan Nabi Ibrahim AS sejak membangun Ka’bah, dan ketika Allah SWT memerintahkan beliau meninggalkan istrinya, Hajar dengan anaknya yang masih kecil, Nabi Ismail AS.

Bisa kita bayangkan bagaimana kepanikan Hajar saat berlari antara Bukit Sofa dan Marwah, mencari air untuk bekal mempertahankan hidupnya bersama anaknya Ismail, di tengah gurun pasir yang jauh dari kehidupan manusia.

Kejadian ini akhirnya diabadikan dalam bentuk ibadah sai. Tata cara ibadah haji dijelaskan dalam manasik, sebagaimana dicontohkan nabi besar Muhammad SAW dan diperjelas dengan ketentuan-ketentuan ibadah secara perinci oleh para imam mazhab dan ulama.

Allah swt berfirman, “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau dengan mengendarai setiap unta yang kurus, mereka akan datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS Al-Hajj: 27).

Firman Allah ini menjadi suatu kenyataan, sampai kini, manakala jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong menuju Baitullah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna, Dia (Allah) berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia, dan dia (Ibrahim) berkata, ‘Dan juga dari anak cucuku?’ Allah berfirman, ‘Benar, tetapi Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (QS Al-Baqarah: 124).

Setiap Muslim yang telah memiliki kemampuan ataupun kesehatan, wajib menyempurnakan rukun Islam kelima. Mereka juga mendambakan bisa menatap Ka’bah dan shalat di sana, serta keutamaan lain, yaitu pahala berlipat saat shalat di Masjidil Haram.

Nabi Muhammad SAW bersabdam “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama dari seribu shalat di masjid yang lain, selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu dari shalat di masjid lain.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah, dari Jabir bin Abdillah).

Disadari bahwa haji merupakan ibadah multidimensi. Ibadah ini diawali dengan rukun yang pertama, yaitu niat ihram untuk beribadah haji. Saat itu, dia harus berusaha berniat melepaskan diri dari semua ikatan keduniaan.

Seperti mendapatkan pujian orang atau riya, atau meningkatkan status sosial dengan titel “haji” dan ini semua masuk dalam unsur batiniah atau unsur qalby. Niat awal sangat menentukan agar ibadah ini diterima Allah.

Faktor lainnya, ibadah haji harus menggunakan harta halal, baik sebagai bekal bepergian maupun untuk biaya keluarga yang ditinggalkan. Seorang yang berhaji dengan menggunakan harta haram tidak akan diterima ibadah hajinya oleh Allah.

Nabi bersabda, “Apabila seorang mengerjakan haji dengan harta haram, lalu mereka mengucapkan labbaika (kupenuhi panggilan-Mu), Allah menjawab, “Tiada labbaika dan tiada sa’adika bagimu (tiada pemenuhan dan tiada kebahagiaan bagimu)” (HR Addailami).

Unsur berikutnya adalah qauly, yaitu semua ucapan, berupa bacaan dan doa yang merupakan manifestasi munajat kepada Allah. Mengucapkan talbiyah harus khusyuk, juga gembira karena jadi hamba ‘yang terpanggil’ oleh pemilik Baitullah.

Ini berlangsung sepanjang perjalanan di Tanah Suci serta melaksanakan ibadah bersifat fisik, dari mulai wukuf di Arafah, bersilaturahim saat mabit di Mina, melaksanakan jumrah dengan niat mengusir setan, serta tawaf dengan niat bersegera menuju keridhaan Allah.

Demikian pula, saat ibadah sai, dengan maksud ikut merasakan dan meneladani Sayidatina Hajar saat mencari air untuk anaknya Ismail.

Mengamati ketiga unsur dalam ibadah haji ini, menarik jika kita melihat pesan-pesan Sayidina Ali Zainal Abidin Ibn Husein ra, cicit Rasulullah, saat menanyakan tentang ibadah ini kepada salah satu muridnya yang bernama As-Syibly ketika pulang dari haji.

Imam As-Syibly adalah satu murid Imam Ali Zainal Abidin ra, yang kemudian menjadi seorang sufi besar. Di antara pertanyaannya, “Pada saat engkau berada di miqat, apakah engkau berniat haji dengan niat yang kuat untuk menanggalkan pakaian maksiat dan menggantinya dengan pakaian taat?”. As-Syibly menjawab, “Tidak”.

“Saat engkau mandi sunah sebelum berihram, apakah engkau niatkan untuk membersikan kerak-kerak dosa yang ada pada dirimu?”. Beliau menjawab, “Tidak”.

“Apakah saat engkau mengganti pakaianmu dan mengganti dengan pakaian ihram, engkau telah berniat, membuang perasaan riya, nifaq (lain antara hati, ucapan, dan perbuatan), dan syubhat (hal-hal yang yang diragukan halal dan haramnya)?”, As-Syibly menjawab, “Tidak”.

Banyak hal lagi menarik untuk diamati dari dialog antara guru dan muridnya ini jika dilihat dari sudut pandang seorang sufi dalam mengamalkan ibadah haji, bukan hanya yang terlihat secara lahir, melainkan substansi ibadah dari sisi batin.

Sebenarnya, masih banyak hal yang perlu diterangkan kepada seorang calon haji selain detail manasik, dan syarat rukun haji yang harus dilakukannya, untuk mendapatkan makna hakiki haji.

Sebagaimana mencakup tiga unsur tadi, batin, ucapan berupa doa, serta ritual ibadah, yang semua itu harus dijalankan dengan jiwa dan raga yang bersih.

Pemahaman tentang substansi ibadah haji, sangat penting agar seseorang, saat selesai haji dan pulang ke Tanah Air, membawa perubahan sikap dalam dirinya dan meningkat ketaatan agamanya, serta memberi pengaruh yang baik terhadap lingkungannya.

Semoga kita yang telah berhaji dan saudara-saudara kita yang akan menjalankan ibadah haji, mendapat keridhaan Allah dan mendapat haji mabrur.

 

Sumber: Republika, 19 Juli 2019, Hlm. 6