Oleh: Zen umar bin Sumaith

Sejarah Islam mencatat, Perang Badar merupakan peperangan pertama kaum Muslimin dengan kafir Quraisy, yang terjadi pada bulan Ramadan, tahun kedua hijriyah.

Ini merupakan peperangan besar yang melibatkan 313 prajurit Muslimin di bawah komando Rasulullah SAW melawan 1000 pasukan kafir Quraisy. Suatu mukjizat dari Allah, pasukan yang tiga kali lebih besar dengan persenjataan lengkap bisa dikalahkan oleh pasukan Muslimin yang jauh lebih sedikit dengan peralatan perang yang seadanya.

Semangat yang didasari iman untuk mempertahankan agama Islam yang diyakininya, serta kecintaan terhadap nabi besar Muhammad SAW, telah memberikan semangat dan keberanian yang luar biasa di kalangan Muslimin.

Keadaan mereka yang sedang berpuasa sama sekali tidak membuat pasukan Muslimin menjadi lemah dan menyurutkan semangat mereka. Saat itu, bersama Nabi Muhammad Saw ikut Abu Bakar Assiddiq ra, Umar bin Khattab ra, dan Ali bin Abi Thalib kw.

Di sisi lawan, nafsu dan kebencian mendasari pasukan musyrikin di bawah komando Abu Jahal, pertempuran sengit terjadi dan berkat bantuan Allah SWT pasukan musyrikin Quraisy mengalami kekalahan telak. Kemenangan dicapai karena adanya bantuan Allah dan ketaatan pasukan Muslimin di bawah komando Nabi Muhammad SAW.

Setelah peperangan usai, dalam perjalanan kembali ke Madinah, para sahabat heran ketika mendengar Rasulullah SAW mengatakan, “Kami kembali dari jihad kecil ke jihad besar.” (HR Al-Baihaqi).

Hadis ini dimasukkan ke dalam kategori lemah (dhaif) sanadnya, walaupun disebutkan di dalam Kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Yang terpenting substansi hadis ini adalah jihad terhadap hawa nafsu, yang merupakan suatu jihad yang besar.

Hadis lain yang menyebutkan hal yang sama adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Zhar, “Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad melawan dirinya dan hawa nafsunya.”

Apa yang dikatakan dalam kedua hadis di atas, sebenarnya mempunyai makna bahwa menundukkan hawa nafsu membutuhkan keyakinan iman dan takwa yang sungguh-sungguh karena hal ini merupakan peperangan batin seseorang terhadap diri sendiri.

Saat ini adalah waktu yang tepat untuk kita tingkatkan kemampuan mengendalikan hawa nafsu yang mendorong manusia ke arah kecintaan duniawi dan tidak akan pernah puas. Pola hidup hedonisme merasuk ke berbagai strata manusia zaman ini.

Sifat ini telah menjerumuskan banyak orang kepada perbuatan yang tidak diridhai Allah SWT. Nafsu terhadap kekuasaan telah menarik seseorang berbuat apa saja demi mencapai tujuan, sampai saling membunuh dan mencelakakan saudaranya sesama Muslim.

Sifat jujur dan adil jauh ditinggalkan karena hawa nafsu ini. Keserakahan telah menguasai jiwa manusia dan mata hati juga telah tertutup dengan bayangan kenikmatan kekuasaan. Sesungguhnya, di sinilah makna jihad akbar yang sebenarnya.

Kemenangan dalam peperangan secara fisik bisa didapat dengan kelihaian strategi, pasukan yang kuat, serta peralatan yang lengkap, tetapi kemenangan peperangan batin dan pengendalian hawa nafsu tidak bisa dicapai dengan kelihaian strategi, tetapi degan kekuatan iman dan ketakwaaan.

Karena itu, tepat jika jihad terhadap hawa nafsu dikategorikan sebagai jihad besar (jihadul akbar). Pengertian jihad sangatlah luas, yaitu bukan hanya peperangan melainkan memiliki banyak makna. Di antaranya, berjuang terhadap kebodohan di kalangan umat. Caranya dengan memberikan pendidikan kepada setiap individu Muslim agar sesuai dengan tujuan penciptaannya, yakni menjadi khalifah Allah di bumi dan menebarkan kasih sayang.

Ilmu agama dibutuhkan untuk memperkuat pondasi keimanan, dan ilmu pengetahuan umum dibutuhkan untuk membekali masyarakat kita dalam menghadapi perkembangan keilmuan. Keduanya bagaikan sebuah rel kereta yang harus selalu sejajar.

Jihad yang lain adalah berjuang untuk mengangkat saudara-saudara kita dari kemiskinan dan hal ini merupakan jihad yang utama. Dalam masalah ini, Islam telah memberikan cara terbaik untuk memanfaatkan potensi zakat dan sedekah untuk kepentingan jihad yang satu ini.

Menginfakkan harta yang sangat dicintai adalah perjuangan tersendiri bagi seseorang manusia untuk meraih kebajikan. Namun, bagi seseorang yang memang sadar bahwa semua milik kita sesungguhnya adalah titipan dari Allah swt, maka kapan pun harta itu diambil tidak akan mempengaruhi dirinya.

Dia meyakini sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis, “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR Muslim). Dalam hal ini, hawa nafsunya sudah betul-betul dikendalikan dan dia telah menang dalm sebuah jihad akbar.

Sesungguhnya, musuh utama manusia ada dalam dirinya sendiri, tetapi penolong utama manusia juga ada di dalam hati yang dipenuhi dengan ketakwaan.

Allah swt telah memperingatkan manusia dalam Alquran, surat Alkahfi ayat 28, “Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginan (hawa nafsunya).”

Hal yang lebih buruk jika ada seorang pemimpin yang jauh dari jalan yang ditentukan oleh Allah, tetapi justru mengikuti hawa nafsunya, dia termasuk pemimpin yang akan sulit berbuat adil, seperti firman Allah swt, “Berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu.” (QS Shad: 26).

Semoga kita diberi kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan mendapatkan ampunan-Nya serta menjadi hamba yang menang dalm jihad akbar.

Sumber tulisan: Republika, 21 Juni 2019, Hlm. 6

Sumber foto: di sini