Jakarta (Pinmas) — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Rabithah Alawiyah yang didirikan dua bulan setelah peristiwa Sumpah Pemuda tepatnya tanggal 27 Desember 1928 merupakan salah satu ormas Islam yang memiliki sumbangsih yang luar biasa bagi perkembangan Islam di Indonesia.

“Keberadaan Rabithah Alawiyah berdiri tidak hanya untuk menjaga dan memelihara nilai-nilai Islam di dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Indonesia ketika belum merdeka, akan tetapi juga turut menjaga landasan semangat kebangsaan masyarakat dapat tetap lestari yang pada akhirnya mewarnai corak keislaman bangsa Indonesia,” demikian disampaikan Menag saat menghadiri Muktamar Nasional Rabithah Alawiyah ke-24 di Jakarta, Minggu (7/8).

Muktamar diikuti oleh Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengawas, Dewan Penasehat, Pengurus Maktab Daimi, Cabang-cabang Rabithah Alawiyah, Perwakilan Rabithah Alawiyah wilayah, Utusan Daerah, Peninjau dan Tokoh Masyarakat diselenggarakan sejak tanggal 5 dan akan berakhir pada 8 Agustus 2016.

Dikatakan Menag, Bani Alawi sangat kuat dalam menjaga tradisi, sehingga cara transformasi pengembangan nilai-nilai ajaran Islam sangat diperhatikan dengan serius, bagi Bani Alawi, sanad tidak bisa diabaikan keberadaannya begitu saja.

Menag dalam kesempatan mengatakan, di era globalisasi dan digitalisasi dengan perkembangan media sosial dan revolusi teknologi informasi begitu pesat, tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini adalah bagaimana corak Islamdi Indonesia sejakberpuluh-puluh tahun yang lalu dapat dipertahankan keberadaannya. Terlebih dengan maraknya paham-paham yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia.

Oleh karenanya, pada Muktamar Rabithah Alawiyah ke-24 ini, Menag menitipkan pesan: Pertama, Islam rahmatan lil alamin yang telah berkembang dengan baik di Indonesia harus senantiasa diperlihara dan dijaga. Kedua, menghadapi maraknya ajaran-ajaran Aswaja dan paham-paham lain, kita tidak boleh antipati akan tetapi harus mengembangkan cara yang lebih efektif agar umat mendapat pencerahan yang sesungguhnya.

Pesan Menag Ketiga, salah satu cara menghadapi paham-paham radikal yang berkembang di masyarakat melalui menggunakan multi media secara efektif. Terlebih generasi muda saat ini lebih akrab dengan multi media.

“Oleh karenanya, kegiatan dakwah hendaknya mulai dikembangkan melalui pemnafaatan multi media,” ujar Menag.

Keempatmenurut Menag, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia selain paham keagamaan adalah pengembangan ekonomi umat. Terlebih, Rabithah Alawiyah didirikan karena semangat untuk memberdayakan dan melakukan penguatan ekonomi umat.

Pada kesempatan tersebut Menag juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para habaib karena dinilai sangat membantu dalam menjalankan salah satu misi Kementerian Agama di antaranya, penyelenggaraan ibadah haji.

“Kami (Kemenag-red) dapat menyelenggarakan ibadah haji dengan baik berkat bantuan para habaib yang ikut menjalin komunikasi dengan pihak Arab Saudi, sehingga Indonesia di mata Arab Saudi selalu harum namanya,” ujar Menag. (didah/dm/dm).

 

Sumber: di sini