Oleh: Dr. Muhammad bin Alawi Al-Maliki

Di antara cabang olahraga yang penting adalah memanah. Olahraga ini sangat dikenal dan mendapat perhatian besar bagi bangsa Arab. Karena cabang tersebut merupakan modal dasar dalam peperangan yang menjadi tolak ukur kecakapan seseorang. Di samping itu, cabang itu juga merupakan modal utama meraih kehormatan dan kemuliaan. Orang yang perkasa harus memiliki kemampuan menunggang kuda dan memanah. Islam datang tidak menghilangkan tradisi itu, malah sebaliknya, menjaga dan melestarikannya. Diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian berlatih memanah, karena itu merupakan permainan terbaik bagi kalian.” (HR Al-Bazzar)

Rasulullah SAW menafsirkan firman Allah yang berbunyi, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..” dengan bersabda, “Kekuatan dalam ayat tersebut adalah memanah. Kekuatan dalam ayat tersebut adalah memanah.” (HR Muslim)

Bukti nyata perhatian Islam terhadap memanah adalah sabda Rasulullah SAW yang melarang umatnya meninggalkan, meremehkan atau melalaikannya. Dalam hadis yang diriwayatkan Uqbah bin Amir disebutkan Rasulullah SAW bersabda, “Allah memasukkan tiga orang ke surga karena panah. Pembuatnya, yang ketika membuat bertujuan agar panah buatannya dipergunakan dengan benar. Pembidiknya, dan juga pelontarnya. Bidikkan panah kalian dan pacu kuda kalian. Sesungguhnya memanah lebih aku sukai dari berkuda.” (HR Abu Dawud).

Rasulullah SAW sendiri langsung memimpin dan melatih umat Islam dalam keterampilan memanah. Menyeru, mengajak dan menganjurkan latihan bersama agar mereka tidak lupa. Dalam sebuah hadis diceritakan Rasulullah SAW bertemu sekelompok orang yang berbadan kurus lantas Rasulullah SAW berkata kepada mereka, “Memanahlah kalian wahai keturunan Ismail, sesungguhnya orang tua kalian adalah ahli memanah dan aku bersama keturunan fulan.” Salah satu dari kelompok mereka ada memegang panah lantas Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, ‘Kenapa kalian tidak membidikkannya?’ Mereka menjawab, ‘Rasulullah, bagaimana kami akan membidiknya sementara engkau bersama mereka.’ Lantas Rasulullah SAW berkata, ‘Bidiklah, sesungguhnya aku bersama kalian semua.’ (HR Bukhari)

Dari hadis ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran, diantaranya:

  1. Etika dan sopan santun sahabat terhadap Rasulullah SAW.
  2. Besarnya perhatian Rasulullah SAW terhadap latihan memanah. Beliau menganggapnya sebagai kegiatan penting, sehingga beliau meluangkan waktu khusus—karena melihat besarnya manfaat serta tingginya faidah yang bisa diraih.
  3. Kesempurnaan sifat Rasulullah SAW sehingga bisa kita katakan bahwa beliau memiliki jiwa atletis tinggi. Meskipun kesempurnaan sifat tersebut hanya terbatas pada cabang-cabang olahraga tertentu. Namun tidak ada salahnya kita katakan demikian selama masih sesuai dengan konteks olahraga.

Kalau diperhatikan secara mendalam, hadis-hadis diatas ternyata memberikan dua manfaat besar bagi kita.

  1. Latihan dan ujian dalam olahraga merupakan suatu keniscayaan dan tidak boleh diabaikan. Meninggalkan latihan dan ujian adalah suatu kerugian besar bagi seorang olahragawan. Ia mengikis bakat dan menghilangkan kecakapannya. Kewajiban ini sama dengan kewajiban seorang pelajar dalam mengulangi pelajarannya agar tidak lupa atau hilang dari benaknya. Kalau tidak, perumpamaannya sama seperti wanita yang menguraikan benang yang sudah terjalin kuat membentuk sebuah kain. Betapa bodohnya perbuatan tersebut. Begitu juga dengan seorang olahragawan yang enggan mengasah kemampuan dan kecakapannya. Perumpamaan ini juga cocok untuknya.
  2. Seorang pelatih dan penanggung jawab adalah ayah dari semua. Sehingga diharapkan ia dapat memperlakukan mereka dengan adil dan bijaksana, tidak berat sebelah. Dengan begitu, apa yang ia lakukan tetap sesuai dengan ajaran agama dan sebagai pelaksanaan dari firman Allah SWT yang berbunyi, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.”

Salah satu bentuk perhatian Islam terhadap persoalan panah memanah adalah keputusan Rasulullah SAW untuk melatih, menertibkan, menentukan posisi mereka dalam peperangan, dan memutuskan waktu yang tepat untuk membidiknya. Pada saat perang Badr meletus dan kedua pihak saling berhadapan, beliau berkata, “Jika mereka mendekat, lepaskan anak panah kalian!”

Perkataan beliau “jika mereka mendekat” adalah bentuk nyata dari penentuan waktu yang paling tepat untuk memanah. Hal itu dilakukan setelah beliau menentukan posisi mereka dalam barisan tentaranya. Beliau memberi komando kepada mereka untuk tidak melepaskan panah sampai lawan mendekat. Tepatnya pada saat lawan maju menyerang dan mendekati mereka. Karena kalau mereka melepaskan anak panah sementara lawan berada di tempat yang jauh, tentu tidak akan sampai dan anak panah itu terbuang sia-sia.

Sejak dahulu bangsa Arab telah mengetahui bahwa panah merupakan alat yang sangat bernilai dan sangat bermanfaat dalam pertempuran. Seorang tentara berkewajiban memelihara panah, alat bidik, dan senjata lainnya dengan baik. Tidak boleh melemparkan dan tidak membidikkan senjata tersebut kecuali pada saat yang tepat sehingga dapat mengenai sasaran.

Rasulullah SAW mempunyai bakat dan kecapakan dalam hal memanah. Kecakaan ini merupakan anugerah khusus yang diberikan Allah pada beliau. Rasulullah SAW tampak gembira saat melihat orang yang memanah dapat mengarahkan anak panahnya tepat pada sasaran. Beliau juga yang memeriksa langsung sasaran yang dibidik tersebut. Keterangan ini dapat dirujuk pada hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, “Abu Talhah pernah berada satu perisai dengan Rasulullah SAW ia termasuk sosok yang ahli memanah. Jika ia melepaskan anak panahnya, Rasulullah SAW sendiri yang memeriksa sasaran anak panahnya.” (HR Bukhari)

Seorang pemanah yang mahir akan mendapat tempat tersendiri di sisi Rasulullah SAW sampai-sampai beliau menempatkannya laksana ayah dan ibundanya. Ali bin Thalib berkata, “Aku tidak melihat ada orang yang diperlakukan lebih istimewa oleh Rasulullah SAW dibanding Sa’ad. Aku mendengar beliau berkata, “Bidikkan anak panahmu. Ayah dan ibuku tebusannya.” (HR Bukhari).

Sumber foto: di sini