Rabithah Alawiyah mengadakan seminar tentang se jarah dakwah Mufti Betawi, Sayid Utsman bin Yahya, di Jakarta, Sabtu (22/12). Seminar dihadiri sejumlah tokoh, antara lain, Prof Dr Umar Shihab (Ketua MUI), Dr Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), dan wartawan senior Republika Alwi Shihab yang akrab disapa Abah Alwi serta sejumlah pakar studi Islam.

Menurut Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, seminar ini sangat penting untuk mendalami sejarah ulama. “Ini bukan hanya tentang merekonstruksi masa lalu, melainkan juga berkaitan dengan kekinian dan masa depan,” jelasnya.

Pembacaan sejarah, jelas Anies Baswedan, harus memiliki proyeksi karena pakar Ilmu Sejarah Ibnu Khaldun menginginkan sejarah untuk menjadi pembelajaran. “Harus ada keterkaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Kemudian, dianalisis apa keterkaitannya,” kata Anies.

Sementara itu, Dosen IAIN Pa lembang Muhammad Noupal menyatakan, Sayyid Utsman sempat dinilai sebagai pendakwah yang kontroversial. Pertama, dia dianggap pro penjajahan karena dinilai dekat dengan penjajah. Kedua, dia dikenal sebagai pendakwah yang moderat, sehingga diterima di berbagai kalangan.

Analisis kedua, menurutnya, menunjukkan, dakwah Islam yang moderat lebih diterima berbagai kalangan karena tidak konfrontatif.
Sikap moderat menurutnya harus menjadi karakter dan ciri khas Islam di Indonesia.

Ketua Rabithah Alawiyah Zen Umar Smith menyatakan, banyak orang melupakan pentingnya sejarah. Masa kini dan yang akan datang tidak lepas dari sejarah masa lalu. Kalau sejarah diabaikan, seseorang kurang memahami betul fenomena masa kini dan yang akan datang. “Dia hanya memandang sekilas, tidak menyeluruh,” jelasnya.

Acara seminar seperti yang diadakannya perlu ditindaklanjuti agar sejarah menjadi pengetahuan kolektif. “Ini untuk membangun kesadaran baru bahwa Islam yang moderat sudah ada sejak dulu,” imbuhnya.

Seminar kali ini adalah yang ke dua kalinya. Seminar pertama, sepekansebelumnya, membahas tentang profil Sayyid Utsman dan jejak langkahnya. Seminar kedua lebih menitikberatkan pada dakwah dan pengaruhnya. (ed: damanhuri zuhri)

Oleh Erdi Nasrul

Sumber: Harian Umum Republika. Jumat, 22 Desember 2012. Hlm. 7