Nama Habib Salim bin Djindan tentu tak asing di masyarakat Muslim Jakarta. Pasalnya, tokoh yang satu ini begitu familiar di komunitas Betawi.

Namun demikian, tokoh ini termasuk orang yang enggan dengan popularitas dan publikasi.

Saat masih hidup, pernah seseorang ingin menuliskan autobiografinya guna dipublikasikan. Namun, dengan tegas, Habib Salim menolaknya.

”Apa yang kalian lakukan? Menulis autobiografi saya, nantinya akan membuat anak cucu saya fakhr (berbangga diri-Red),” ujarnya.

Kemudian, Habib Salim meminta baik-baik naskah autobiografi itu dan merobek-robeknya, tanpa peduli si penulis yang menyatakan bahwa orang seperti dia perlu menerbitkan autobiografi agar diketahui masyarakat banyak.

Habib Salim adalah seorang ulama yang dilahirkan di Surabaya pada 18 Rajab 1324 H atau bertepatan dengan 7 September 1906 M. Nama lengkapnya adalah Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Djindan. Ia wafat diJakartapada 16 Rabiul Awal 1389 atau bertepatan dengan 1 Juni 1969.

Pada periode 1940-1960, di wilayah Ibukota Jakarta, terdapat tiga ulama yang seiring sejalan dalam berdakwah. Mereka adalah Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi, Ali bin Husein Alatas, dan Habib Salim bin Djindan. Hampir semua habaib dan ulama diJakartaberguru kepada ketiga ulama ini, terutama kepada Habib Salim bin Djindan.

Pada zamannya, nama ulama yang bicaranya suka ‘ceplas-ceplos’ ini sangat dikenal. Seperti lazimnya generasi Alawiyin terdahulu, sejak kecil Habib Salim mendapat pendidikan agama langsung dari ayahnya, yakni Habib Ahmad bin Djindan.

Menginjak usia remaja, ia berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, seorang pakar hadis dan ahli fikih yang saat itu memimpin Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya.

Sebagai pemuda yang haus akan ilmu, Salim bin Djindan berguru pada berbagai ulama dan aulia yang tinggal diSurabaya. Di antaranya Habib Abdullah bin Muhsin Alatas yang makamnya terdapat di Empang,Bogor, dan sampai kini diziarahi banyak orang dari Jabodetabek.

Salah satu gurunya yang tersohor adalah Habib Muhammad bin Muhammad Almachdor (Bondowoso), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf—seorang ulama dari Gresik yang dikenal luas di Tanah Air. Tiap tahun, ribuan orang, termasuk dariJakarta, mendatangi Kota Gresik untuk menghadiri haulnya. Dia juga berguru dengan KH Kholil bin Abdul Muthalib dari Bangkalan Madura.

Setelah menimba ilmu dan mendapat sanad serta ijazah dari beberapa ulama, Habib Salim akhirnya memiliki keahlian dan alim dalam berbagai bidang: hadis dan sejarah, termasuk sanad hadis.

Kepakarannya dalam bidang hadis menempatkannya sebagai seorang muhaddis (ahli hadis) dan musnid (menguasai ilmu sanad hadis).

Dalam menguraikan suatu hadis, Habib Salim sangat fasih dan hafal sumber-sumbernya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Inilah yang membuat orang kagum terhadap daya ingatnya yang demikian cemerlang.

Sebagai seorang yang hormat kepada guru-gurunya yang selama bertahun-tahun dia tekuni, dia pun memberikan penghargaan yang tinggi pada mereka.

Habib Salim pernah berkata, ”Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Sungguh dapat aku rasakan bahwa majelis mereka merupakan majelis para sahabat Rasulullah SAW di mana terdapat kekhusyukan, ketenangan, dan kharisma yang terpencar di hati mereka.”

Kendati sudah terkenal sebagai dai muda (17 tahun) sewaktu di Surabaya, namanya makin berkibar saat hijrah keJakarta. Dalam masa remaja itu, dia juga berdakwah di kota-kota lain, seperti Pekalongan, Tegal, hinggaBogor, di samping membuka majelis taklim di kediamannya di Bidaracina (kini Jalan Otista), Jakarta Timur.

Tegas
Salah satu keistimewaan Habib Salim adalah sikapnya yang tegas dalam berdakwah. Ia tak mengenal kata takut dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Keberaniannya ini bagaikan lawan tanpa tanding, termasuk para penguasa di zaman pemerintahan Bung Karno.

Ibnu Umar Junior dalam risalah Fenomena Kramat Jati menulis, ”Gara-gara keberaniannya, Kolonel Sabur (salah satu ajudan Bung Karno) sampai berang setengah mati kepada Habib Salim ketika dia melancarkan kritik-kritik terhadap pemerintah di sebuah acara di Palembang tahun 1957 yang dihadiri Presiden Soekarno.”

“Kolonel Sabur menyuruh Habib Salim turun dari mimbar. Di kesempatan itu, beliau berkata kepada para hadirin, ‘Suara rakyat adalah suara Tuhan. Apakah saya harus terus ceramah atau tidak?’ Serempak para hadirin menjawab, ‘Teruuus!’.”

Karena keberaniannya itu, ia sering ditangkap pemerintah dan harus menghabisi malam-malamnya di penjara. Saat berceramah diManadoyang penduduknya mayoritas beragama Kristen, ia pernah ditangkap. Tuduhannya, apalagi kalau bukan pelecehan agama. Padahal, Habib Salim berbicara mengenai keadaan yang sebenarnya. Namun, umat Kristiani merasa tersinggung dengan ucapan Habib Salim.

Di Jakarta juga begitu. Saat terjadi revolusi fisik, Habin Salim tetap lantang berpidato dalam berbagai forum, seperti majelis taklim, pengajian, dan masjid.

Ucapannya mampu membakar semangat pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Padahal, kala itu NICA (tentara Belanda) tengah masuk kembali keIndonesiamelalui pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris. Ketegasan itulah yang menyebabkannya kerap ditangkap dan dipenjarakan.

Di dalam tahanan Belanda yang berambisi ingin kembali berkuasa diIndonesia, Habib Salim tetap tabah, sabar, dan pantang menyerah. Niatnya bukan hanya sekadar amar ma’ruf nahi munkar, tapi menentang kebatilan dan kemungkaran. Baginya, penjajahan terhadap suatu bangsa adalah pemerkosaan terhadap hak asasi manusia.

Bersama dengan Habib Ali Alhabsyi (Kwitang) dan Habib Ali bin Husin Alatas, mereka dikenal sebagai tiga serangkai (triumvirat) dalam berdakwah. Kalau Habib Ali bin Husin Alatas lebih banyak diam dan Habib Ali Kwitang mengajak masyarakat saling mencintai; Habib Salim Bin Djindan dengan suara yang menggebu-gebu kadang mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggapnya berlawanan dengan ajaran Islam.

Seperti tahun 1960-an, ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan serangan-serangan anti-Islam, Habib Salim bin Djindan senantiasa berada di depan bersama ribuanmassauntuk menyerang kelompok kiri ini. Padahal, ketika itu, PKI merupakan partai yang sangat kuat dan ditakuti. Ia mengingatkan umat Islam akan bahaya besar bila komunis berkuasa di Indonesia.

Habib Salim terkenal sebagai ulama yang tegas dan keras, terutama dalam hal-hal kemaksiatan. Ia juga sering kali mengingatkan umat akan kerusakan moral. Kepada kaum wanita, Habib mengingatkan mereka agar memerhatikan cara berpakaian dan menutup aurat.

”Jagalah wanita-wanita kalian. Peringatkan anak-anak dan istrimu agar menjaga aurat mereka. Karena penyakit tabarruj (memamerkan aurat) bisa menyebar ke rumah-rumah kalian,” kata Habib Salim.

Dalam buku 12 Habaib Berpengaruh, Habib Salim berkata kepada keluarganya, ”Aku mengharapkan datangnya kematian. Karena aku menginginkan perjumpaan dengan orang-orang yang aku cintai. Mereka adalah para ulama dan salihin dan aku mengharapkan berkumpul bersama ajdad (para leluhurku) dan bersama datukku, Muhammad Rasulullah.”

Pada 16 Rabiul Awal 1389 H bertepatan 1 Juni 1969 M, singa podium itu wafat. Ribuan umat Islam dari berbagai pelosok Jabodetabek bertakziah ke kediamannya di Otista (Jalan Otto Iskandardinata). Umat Islam pun merasa kehilangan dengan kepergian sang ulama.

Dari kediamannya di Otista ke Qubah Pekaburan Al-Hawi, Condet, Cililitan, Jakarta Timur, jenazah digotong secara geranting. Di sepanjang jalan sekitar 4 kilometer, mereka membaca takbir dan tahlil. Peziarah yang memadati Jalan Condet Raya itu tidak dapat memasuki tempat pemakaman akibat penuhnyamassa.

Selepas kepergiannya, Habib Salim mewariskan majelis taklim dan ilmu pengetahuan melalui buku-buku yang tersimpan di dalam perpustakaannya. Di perpustakaan ini, tak kurang darilimaribu kitab, termasuk kitab-kitab dari mancanegara. Ini menunjukkan bahwa Habib Salim bin Djindan adalah seseorang yang haus akan ilmu.

Sepeninggal Habib Salim, dakwah dan perjuangan beliau dilanjutkan oleh kedua putranya, Habib Shahahuddin dan Habib Novel. Keduanya kini telah wafat. Habib Novel membuka majelis taklim di Larangan, Tangerang, dan kini diteruskan oleh kedua putranya Habib Djindan bin Novel dan adiknya Habib Muhammad.

Kedua kakak beradik alumnus Darul Mustafa, Tarim, Hadramaut, ini merupakan lulusan pertama dari pesantren yang dipimpin oleh Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar.

Siapa yang lebih mulia?

Habib Salim Djindan dikenal sebagai seorang ulama yang alim dan menguasai banyak ilmu. Hal ini tampak dari salah satu perbincangannya dengan seorang pendeta.

Pendeta: “Habib, yang lebih mulia itu yang masih hidup atau yang sudah mati?”

Habib: “Semua orang akan menjawab, yang hidup lebih mulia dari yang mati. Sebab, yang mati sudah jadi bangkai.”

Pendeta: “Kalau begitu, Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad bin Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa—menurut keyakinan Habib—belum mati dan masih hidup.”

Habib: “Kalau begitu, ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab, Maryam sudah meninggal, sedangkan ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di belakang.”

Mendengar jawaban diplomatis itu, si pendeta terbungkam seribu bahasa, lalu pamit pulang.

Cerita mengenai perbincangan antara Habib Salim dan sang pendeta ini tersebar luas di tengah masyarakat. Sehingga, ketika itu, banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk Islam setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim.

Redaktur: Chairul Akhmad

Reporter: Alwi Shahab/Nidia Zuraya

Sumberdi sini, di sinidi sinidi sini.